Rabu, September 9, 2026
Beranda SEJARAH Nyangku Panjalu 2026, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Nilai Kehidupan Masyarakat

Nyangku Panjalu 2026, Merawat Warisan Leluhur dan Meneguhkan Nilai Kehidupan Masyarakat

0
18

CIAMIS,Ciamis News,indotipikor-
Suasana khidmat dan penuh nuansa budaya terasa di kawasan Situ Lengkong Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin (7/9/2026), saat masyarakat kembali melaksanakan Upacara Adat Nyangku sebagai bagian dari rangkaian Festival Budaya Panjalu 2026.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini menjadi ruang bersama bagi masyarakat untuk mengenang perjalanan sejarah Panjalu sekaligus menggali kembali nilai-nilai kebaikan yang diwariskan para karuhun. Nyangku tidak hanya menghadirkan prosesi adat, tetapi juga mempertemukan sejarah, budaya dan nilai keislaman dalam sebuah perhelatan yang sarat makna.

Festival tahun ini mengusung tema “Melalui Nyangku dan
Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-Nilai Budaya dan Keislaman dalam Menelusuri Jejak Kebaikan Para Karuhun.” Tema tersebut menjadi penegasan bahwa pelestarian budaya perlu berjalan beriringan dengan upaya memahami pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Bupati Ciamis,H. Herdiat Sunarya, menyampaikan bahwa Nyangku memiliki makna yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar agenda budaya tahunan. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi sarana untuk mengenal kembali sejarah dan keteladanan para pendahulu, kemudian mengambil nilai-nilai positifnya untuk diterapkan dalam kehidupan saat ini.

“Untuk menelusuri dan meneladani jejak kebaikan para karuhun, kemudian dijadikan pijakan dalam kehidupan masa kini dan masa yang akan datang,” ujar Herdiat.

Ia mengatakan, keberadaan Nyangku merupakan salah satu kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Panjalu sekaligus bagian penting dari khazanah budaya Kabupaten Ciamis.

Menurutnya, pelestarian tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk prosesi yang diwariskan dari generasi ke generasi. Hal yang lebih penting adalah menjaga agar pesan, nilai dan semangat yang terkandung dalam tradisi tersebut tetap dipahami serta diamalkan oleh generasi berikutnya.

Terlebih, Nyangku telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2017. Status tersebut menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama untuk memastikan keberlangsungan tradisi tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

Rangkaian Upacara Adat Nyangku diawali dengan tawasul. Prosesi kemudian berlanjut dengan persiapan di Bumi Alit sebelum rombongan membawa pusaka menuju kawasan Situ Lengkong dan Nusa Gede.

Setelah tiba di lokasi, pusaka ditempatkan di panggung utama untuk mengikuti rangkaian acara. Kegiatan dilanjutkan dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, pedaran sejarah Nyangku hingga doa bersama.

Suasana semakin khidmat ketika memasuki prosesi Gelar Pusaka atau Ngaberesihan Pusaka. Prosesi tersebut dilaksanakan dengan iringan lantunan shalawat yang semakin memperkuat perpaduan antara tradisi budaya dan nilai keislaman dalam
Pelaksanaan Nyangku.

Setelah seluruh rangkaian selesai, pusaka kemudian dibawa kembali menuju Bumi Alit melalui prosesi Ngabrakeun.

Pelaksanaan kegiatan turut dihadiri Forkopimda Kabupaten Ciamis, jajaran Pemerintah Kabupaten Ciamis, Yayasan Borosngora, tokoh adat, ulama dan tokoh agama, tokoh masyarakat, perangkat daerah, masyarakat Panjalu serta para pengunjung.

Sambutan dari Yayasan Borosngora disampaikan Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata, M.P., sementara pedaran mengenai sejarah Nyangku disampaikan Rd. Agus Gusnawan Cakradinata.

Bupati Herdiat memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan masyarakat yang telah bersama-sama menyukseskan pelaksanaan Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026.

Menurutnya, kelancaran pelaksanaan kegiatan menunjukkan bahwa kepedulian masyarakat terhadap budaya daerah masih sangat kuat. Lebih dari itu, keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga warisan budaya.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Ciamis, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia yang telah bahu-membahu melaksanakan kegiatan ini,” ungkapnya.

Herdiat berharap semangat tersebut terus dipelihara dan ditanamkan kepada generasi muda. Sebab, keberadaan budaya akan tetap hidup apabila generasi penerus tidak hanya mengenal bentuk tradisinya, tetapi juga memahami nilai yang menjadi dasar lahir dan berkembangnya tradisi tersebut.

Ia menambahkan, penghormatan terhadap sejarah, kecintaan terhadap budaya daerah, kebersamaan, gotong royong dan keteladanan para karuhun merupakan nilai yang relevan untuk terus diwariskan.

Dengan demikian, Nyangku diharapkan tidak sekadar menjadi pengingat perjalanan masa lalu, tetapi mampu menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur para leluhur dengan kehidupan masyarakat masa kini dan masa mendatang.Editor (Yan.P/M.Robby).