Beranda blog Halaman 60

Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, mengapresiasi capaian sertipikasi tanah di Provinsi DKI Jakarta

0

Jakarta ––INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS KEMENTERIAN RI— Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional (Wamen ATR/Waka BPN), Ossy Dermawan, mengapresiasi capaian sertipikasi tanah di Provinsi DKI Jakarta yang telah menembus 98,6%. Ia menyebut capaian ini sebagai salah satu yang terbaik di Indonesia.

“Sebanyak 98,6% bidang tanah di DKI Jakarta telah terdaftar. Capaian ini merupakan keberhasilan Bapak Gubernur dan jajaran dalam menata tata kelola administrasi pertanahan di Provinsi DKI Jakarta yang dapat menjadi contoh yang sangat baik bagi daerah-daerah lain di seluruh Indonesia,” ujar Wamen ATR/Waka BPN dalam acara Penyerahan Sertipikat Hak Pakai atas Nama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di Balai Agung, Jakarta, Rabu (24/06/2026).

Menurut Wamen Ossy, capaian tersebut perlu terus ditingkatkan hingga seluruh bidang tanah di DKI Jakarta terdaftar dan bersertipikat. Untuk mewujudkannya, Kementerian ATR/BPN akan memperkuat sinergi dengan Pemprov DKI Jakarta, baik dalam percepatan sertipikasi tanah maupun peningkatan kualitas pelayanan pertanahan kepada masyarakat.

“Harapannya bukan hanya berhenti di sini, tetapi terus dimaksimalkan hingga 100% bidang tanah dapat terdaftar dan bersertipikat,” sambung Wamen Ossy.

Penguatan sinergi sinergi antara Kementerian ATR/BPN dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta salah satunya dilakukan melalui integrasi data pertanahan, kependudukan, dan perpajakan. Wamen Ossy mengatakan bahwa sinkronisasi Nomor Identifikasi Bidang (NIB), Nomor Induk Kependudukan (NIK), dan Nomor Objek Pajak (NOP) menjadi langkah strategis untuk mewujudkan sistem administrasi pemerintahan yang lebih terintegrasi, akurat, dan akuntabel, sekaligus mendukung optimalisasi pelayanan publik serta peningkatan penerimaan daerah.

“Kami terus mengembangkan integrasi data pertanahan dengan data kependudukan dan perpajakan. Ini penting untuk mewujudkan tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel,” ungkap Wamen ATR/Waka BPN.

Dalam kesempatan tersebut, Wamen Ossy yang hadir mewakili Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid, menyerahkan 499 Sertipikat Hak Pakai atas nama Pemprov DKI Jakarta dengan total luas mencapai sekitar 85 hektare. Sertipikat tersebut diterima langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo.

Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta, Uus Kuswanto; Kepala Satuan Tugas pada Direktorat Koordinasi dan Supervisi Wilayah II KPK, Dwi Aprilia Linda; serta jajaran Pemprov DKI Jakarta. Turut mendampingi Wamen ATR/Waka BPN dalam kegiatan ini, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol, Achmad; Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi DKI Jakarta, Erry Juliani Pasoreh beserta jajaran; serta para Kepala Kantor Pertanahan se-Provinsi DKI Jakarta. (SG/FA)

#KementerianATRBPN
#MelayaniProfesionalTerpercaya
#MajuDanModern
#MenujuPelayananKelasDunia

Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional

Pertama Kali Dalam Sejarah, Publik Dapat Pilih Logo HUT ke-81 Republik Indonesia

0

Jakarta,–INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS KEMENTERIAN– 24 Juni 2026 – Presiden Prabowo membuka ruang partisipasi publik dalam pemilihan logo HUT ke-81 Republik Indonesia. Hari ini, Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf), Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg), dan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) meluncurkan tautan jajak pendapat (polling) pemilihan logo HUT RI tahun 2026.

“Tahun ini menjadi tonggak baru dalam penentuan logo HUT RI. Untuk pertama kali dalam sejarah, atas arahan Bapak Presiden, masyarakat dilibatkan secara aktif dalam menentukan logo melalui mekanisme polling publik yang dilaksanakan mulai hari ini, 24 hingga 28 Juni 2026,” ujar Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya.

Masyarakat dapat mempelajari konsep dan filosofi serta menentukan logo pilihan pada tautan https://logohutri.istanapresiden.go.id/. Desain logo yang ditampilkan merupakan lima karya terbaik dari para desainer grafis profesional dari berbagai daerah di Indonesia, yang telah melalui serangkaian proses kurasi yang melibatkan Kemenekraf, Kemensetneg dan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI). Setiap karya menghadirkan interpretasi visual yang beragam terhadap tema peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini.

Menteri Ekraf menjelaskan, sayembara logo HUT ke-81 Republik Indonesia sebelumnya diikuti oleh 124 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam proses tersebut, Kementerian Ekraf berperan mendorong partisipasi talenta kreatif nasional serta memastikan proses kurasi berjalan secara profesional hingga terpilih lima desainer finalis terbaik yang kini dapat dipilih langsung oleh masyarakat. Adapun lima kandidat logo tersebut adalah hasil karya desainer grafis profesional dari berbagai daerah, yakni David Wirawan (Surakarta), Fajar Novario (Padang), Kanda Putra (Denpasar), Riskiawan (Malang), dan Tiffany Djohan (Batam).

Sementara itu, Wakil Menteri Sekretaris Negara Juri Ardiantoro menyampaikan bahwa selain peluncuran polling logo, pemerintah juga telah menetapkan tema resmi peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Wamen Juri menegaskan bahwa pelibatan masyarakat dalam proses pemilihan logo merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar peringatan kemerdekaan menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Wamen Juri juga menambahkan, sebagai bentuk apresiasi kepada masyarakat yang berpartisipasi, panitia juga menyiapkan berbagai hadiah menarik bagi 300 peserta terpilih. Hadiah tersebut terdiri atas 100 undangan untuk menghadiri Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI, 100 paket suvenir resmi peringatan kemerdekaan, serta 100 bantuan pendidikan.

Kiagoos Irvan Faisal
Kepala Biro Komunikasi
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif

Byar Pet Listrik dan Opsi Terbaik Energi Nasional Oleh: Yakub F. Ismail

0

JAKARTA–INDOTIPIKOR.COM-MEDIA IMO INDONESIA—Fenomena pemadaman listrik atau sering diistilahkan dengan byar pet belakangan ini ramai diperbincangkan masyarakat.

Meski begitu, perlu ditegaskan bahwa byar pet bukan sekadar gangguan teknis yang membuat dapur hingga halaman kota mendadak gelap, mesin produksi tiba-tiba berhenti, atau jaringan internet mendadak terputus.

Sebaliknya, ia merupakan penanda buruk dari sebuah situasi yang muncul akibat tata kelola yang kurang tepat serta antisipasi energi yang terlambat dilakukan.

Gejala ini menjadi alarm serius bahwa Indonesia saat ini sedang berhadapan dengan persoalan ketahanan energi yang belum sepenuhnya mendapat jalan keluar.

Langkah pemadaman listrik bergilir harus dibaca sebagai gejala di permukaan dari endapan problem yang jauh lebih dalam, yaitu tentang rapuhnya ketahanan pasokan energi nasional, minimnya kapasitas pembangkit, distribusi listrik yang kurang memadai, hingga arah kebijakan energi nasional yang masih belum merefleksikan tanda-tanda positif.

Kenyataan yang hari ini dihadapi pemerintah adalah bahwa kebutuhan listrik terus mengalami kenaikan cukup drastis seiring pertumbuhan industri, masifnya digitalisasi, urbanisasi, dan peningkatan konsumsi rumah tangga.

Sementara, di saat bersamaan sistem energi nasional kita masih berada dalam lanskap kebijakan konvensional dengan mengandalkan pendekatan lama untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang semakin tinggi.

Alhasil, jurang antara tuntutan kebutuhan dan ketersediaan pasokan menjadi semakin melebar dari waktu ke waktu, sedangkan alternatif yang harus disediakan belum sepenuhnya berjalan baik.

Apa yang kemudian terjadi adalah kemampuan atau daya topang energi yang ada saat ini sangat tidak mencukupi untuk kebutuhan yang ada.

Pemadaman bergilir lalu muncul sebagai opsi menjaga denyut masyarakat tetap berdegup, meski harus terengah-engah akibat keterbatasan energi nasional.

Inilah cerminan kondisi riil kita hari ini yang patut menjadi atensi bersama agar bisa keluar dari kemelut yang sedang membayangi negeri, sebelum semuanya terlambat.

Membongkar Akar Masalah

Byar pet pada esensinya merupakan fenomena yang muncul dari persoalan struktural di sektor energi nasional.

Di awal telah disinggung bahwa di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, ternyata tidak diiringi dengan kebijakan energi yang tepat.

Alhasil, persoalan yang muncul adalah bagian dari konskuensi yang tidak bisa dihindarkan. Ini bukan tentang berapa banyak cadangan sumber daya energi yang dipakai secara tidak efektif, melainkan tentang kurangnya inisiatif dan komitmen untuk mencari alternatif dengan tepat.

Dengan melihat fakta yang terjadi hari ini, kondisi riil yang tidak bisa disembunyikan lagi adalah bahwa ketahanan energi domestik kita memang sangat rapuh.

Sejauh ini, pembangkitan listrik nasional masih cenderung mengandalkan pada energi fosil, utamanya dari batu bara, gas, dan sebagian lainnya minyak.

Ketergantungan yang begitu besar terhadap energi fosil harus diakui merupakan sebuah kesalahan fatal yang tidak bisa dianggap sepele.

Negara-negara maju di dunia telah sibuk mengalihkan ketergantungan mereka terhadap energi fosil dan mulai beralih secara bertahap dan efektif terhadap energi terbarukan yang tidak hanya efektif, tapi juga ramah terhadap lingkungan.

Ini bukan tentang cerita fiktif, tapi sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Bahkan, negara tetangga kita seperti Singapura, telah lebih dulu memulai alternatif kebijakan energinya dengan mendaur ulang sampah menjadi energi bagi kebutuhan nasional.

Meksipun, kontribusi terhadap kebutuhan energi nasional hanya berkisar 2 hingga 3 persen, namun langkah yang diambil Singapura untuk mencoba beralih dari energi fosil ke energi terbarukan adalah sebuah langkah positif yang patut diapresiasi.

Bagaimana dengan Indonesia hari ini? Sadar atau tidak, ketergantungan yang terlalu besar pada sumber energi fosil justru menjadi persoalan serius yang dampaknya hari ini mulai terasa.

Selain tidak ramah lingkungan, ganggungan yang terjadi pada pasokan batu bara, distribusi gas, hingga harga energi global bergejolak, kebutuhan energi nasional menjadi bencana besar.

Semua orang tahu bahwa Indonesia memang negara yang kaya akan sumber energi, namun kekayaan itu tidak secara otomatis membawa rasa aman dari krisis.

Itulah sebabnya, fenomena byar pet menjadi sinyal yang tidak cukup dipahami sebagai gangguan teknis semata, tapi perlu menyikapinya secara bijak dan serius agar tidak menjadi bencana besar di masa akan datang.

Menilik Energi Alternatif

Persoalan-persoalan yang telah disebutkan di atas kini menuntut jawaban tegas. Negara membuthkan jalan keluar, bukan jalan pintas.

Pemadaman bergilir adalah sinyal negatif yang butuh respons cepat dan tepat. Indonesia membutuhkan lompatan kebijakan yang efektif menuju diversifikasi energi yang lebih menjanjikan di masa mendatang.

Terkait solusi tersebut, jika kita menengok lagi potensi yang dimiliki bangsa ini sesungguhnya sangat besar.

Diakui atau tidak, sumber energi ramah lingkungan begitu melimpah di republik ini, baik dalam bentuk turbin air melalui pembangkit listrik tenaga mikrohidro juga hidro berskala besar, turbin angin di wilayah pesisir dan daerah dengan kondisi kecepatan angin tinggi, lalu panel surya yang sangat kotekstual bagi negara tropis seperti Indonesia, hingga biomassa dan biogas dari limbah organik.

Namun sekali lagi, yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa dari berbagai alternatif yang ada itu, terdapat salah satu sumber yang menurut penulis paling layak mendapat pertimbangan, yaitu konversi sampah rumah tangga menjadi energi listrik untuk kebutuhan skala nasional.

Mengapa opsi pengolahan sampah menjadi energi listrik dan bukan yang lain? Jawabannya sudah jelas bahwa saat ini Indonesai tengah menghadapi dua krisis sekaligus yang bukan main dampaknya bagi keberlangsungan bangsa.

Dampak tersebut adalah krisis energi dan krisis sampah yang semakin parah di berbagai daerah, khususnya di kawasan perkotaan yang mempunyai tata kelola sampah yang buruk.

Dari data empiris menunjukkan bahwa kota-kota besar di Indonesia dari waktu ke waktu terus dibebani volume sampah yang nyaris tak tertangani lagi.

Jakarta, Surabaya, Medan dan lain-lain adalah contoh betapa sampah menjadi masalah serius yang tidak bisa dianggap sebelah mata.

Dengan memanfaatkan sampah menjadi energi listrik, maka sebetulnya kita tidak hanya sedang menemukan jalan keluar di tengah krisis energi dalam negeri yang semakin meresahkan, tapi juga mengatasi tantangan krusial pemumpukan sampah dari waktu ke waktu.

Berkaca dari negara-negara maju seperti Swedia yang dengan cukup baik menunjukkan bagaimana sampah dapat dikelola menjadi sumber energi yang bernilai tinggi.

Dengan menggunakan teknologi waste-to-energy, maka sampah dikonversi menjadi listrik, panas, atau bahan bakar alternatif dengan standar emisi yang ketat yang mampu memberikan solusi nyata untuk menjawab dua tantangan sekaligus: sampah dan energi.

Kaitannya dengan alih energi inilah relevan untuk membicarakan apa yang hari-hari ini ramai diperbincangkan di berbagai belahan dunia: smart energy.

Smart energy tentu saja bukan tentang memanfaatkan teknologi digital dalam distribusi listrik, melainkan tentang upaya menghadirkan sistem energi yang lebih efisien, adaptif, dan beragam sumber secara terintegrasi.

Menjawab permasalahan krisis energi dalam negeri membuat Indonesia tidak cukup hanya mengejar ketersediaan listrik semata.

Bangsa ini perlu juga mendesain sebuah sistem pemenuhan energi listrik yang cerdas, berkelanjutan, dan memiliki daya tahan tahan terhadap krisis pasokan.

Dalam konteks itulah, pengembangan energi dari sampah menjadi energi listrik harus dilihat sebagai kebutuhan yang mendesak dan prioritas.

Artinya, jika opsi tersebut menjadi komitmen serius dan dapat dijalankan dengan benar, maka ini akan menjadi momentum paling masuk akal untuk keluar dari jebakan ‘byar pet’ dan secara bertahap melangkah menuju kedaulatan energi masa depan.

Penulis adalah Direktur Eksekutif Indonesian Initiative for Strategic and Policy Studies (INISIATOR)

Kesan Miris, ”Disinyalir Program Menteri Pertanian Lahan dan Irigasi Tidak Terpasang Petunjuk Teknis”

0

TASIKMALAYA–INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS KEMENTERIAN—25-06-2026–Seiring Dengan berjalannya Program Pekerjaan pemasangan perpompaan ke saliran perpipaan di bidang pertanian itu bertujuan untuk mendistribusikan air secara efisien dari sumbernya langsung ke lahan dengan inisiatif yang merupakan utamanya di tujukan untuk mencegah kekeringan dan meminimalkan kehilangan air akibat penguapan atau peresapan tanah serta memastikan kebutuhan yang di perlukan mendapatkan pasokan air yang merata yang sehingga di utamakan daerah tadah hujan atau lahan kering, tentunya sesuai dengan Asta Cita Presiden Republik Indonesia.

Yang mana secara spesifik, program ini memiliki beberapa tujuan seperti, Meningkatkan Indeks Pertanaman, Meminimalkan risiko air terbuang atau bocor di perjalanan, Memperluas Lahan Produktif, Mendukung Beragam Komoditas dan Meningkatkan Pendapatan Petani yang lebih stabil dan melimpah untuk produktivitas pertanian secara keseluruhan dan meningkat sehingga mampu mendongkrak kesejahteraan petani.

Kilas Informasi Saat ini, Di salah satunya pekerjaan perpompaan dengan pengerjaan secara Swakelola Kelompok Tani Kenanga yang di bawah naungan UPKK Kenanga Desa Papayan Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya dengan nilai Anggaran Sebesar Rp. 155.700.000._ (Seratus Lima Puluh Lima Juta Tujuh Ratus Ribu Rupiah) APBN Tahun Anggaran 2026.

Dalam pelaksanaan tersebut Program Kementerian Cq, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi disinyalir tidak terpasangnya Gambar Petunjuk Teknis serta tidak adanya pekerja yang memakai alat pelindung keselamatan kerja (P3K) yang itu wajib harus di sediakan oleh kontraktor, dan juga di khawatirkan dengan berjalannya pekerjaan tersebut dengan tanpa adanya Bistek/Gambar itu akan mengakibatkan kualitas dan kuantitas tidak maksimal yang sehingga pengurangan pengurangan material akan menjadi dampak yang sebenarnya.

Selasa. 23/6/2026 Kami sebagai awak media ketika melaksanakan tugas kontrol sosial ke wilayah tersebut yang memang pekerjaan kontruksi bak penampung air masih dalam rancangan pemasangan kontruksi pembesian.

Ketika awak media di lokasi pekerjaan kami ingin bertemu dengan pelaksana kegiatan lapangan berinisial Y tapi dengan itu tidak bertemu, dan setelah itu kami menanyakan ke pekerja yang sedang membuat pola bekisting, ketika kami menanyakan kepada pekerja tersebut beliau menyampaikan sedang di luar lagi acara di sekolah.

Dengan adanya berita tayang ini sebagai langkah bentuk komfirmasi informasi awal untuk menggali informasi yang seakurat mungkin selanjutnya, Demi Asta Cita Program Pemerintah,   mengenai Program Pemerintah Kementerian Pertanian Cq. Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian.
Bersambung…

A. Firmansyah.

Presiden Prabowo Terima Lencana Emas Adi Bhakti Tani Nelayan Maha Utama dari KTNA Nasional

0

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS PRESIDEN RI—Presiden Prabowo Subianto menerima penghargaan lencana emas Adi Bhakti Tani Nelayan Maha Utama yang diserahkan oleh Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional dalam acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Rabu, 24 Juni 2026.

Lencana tersebut diberikan sebagai bentuk penghargaan atas perhatian, dukungan, dan keberpihakan Presiden Prabowo terhadap petani dan nelayan Indonesia. Penyerahan penghargaan dilakukan oleh Ketua Panitia Penyelenggara PENAS XVII sekaligus Ketua Umum KTNA Nasional Muhammad Yadi Sofyan Noor.

Dalam kesempatan tersebut, Yadi menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo atas dukungan terhadap sektor pertanian dan perikanan nasional. Menurutnya, PENAS menjadi forum kolaborasi antara petani, nelayan, penyuluh, akademisi, dunia usaha, serta pemerintah dan swasta dalam mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan.

“Atas nama keluarga besar Kontak Tani Nelayan Andalan Indonesia menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Bapak Presiden Republik Indonesia atas perhatian beliau, kepedulian beliau, dukungan beliau, serta keberpihakan kepada petani dan nelayan,” ujar Muhammad Yadi.

Ketua Umum KTNA juga menyampaikan bahwa kehadiran Presiden Prabowo di tengah para petani dan nelayan menjadi bentuk dukungan sekaligus penyemangat bagi masyarakat yang bergerak di sektor pangan.

“Kehadiran Bapak Presiden menjadi kehormatan sekaligus penyemangat bagi kami untuk berkarya, berinovasi, berkontribusi dalam pembangunan pertanian,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan penghargaan dan rasa terima kasih kepada seluruh petani dan nelayan Indonesia yang dinilainya telah menjadi pilar utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Kepala Negara menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia dalam meningkatkan produksi pangan tidak terlepas dari kerja keras dan dedikasi para petani dan nelayan di seluruh Tanah Air.

“Terima kasih seluruh masyarakat tani dan nelayan Indonesia, terima kasih kerja keras saudara-saudara. Perjalanan masih jauh, saudara-saudara telah membuktikan saudara terus semangat, sebagai produsen pangan, saudara-saudara sesungguhnya adalah tulang punggung Republik Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.

(BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Tegaskan Tujuan Kemerdekaan adalah Kesejahteraan Seluruh Rakyat

0

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS PRESIDEN RI—Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa tekad untuk memperkuat dan menyejahterakan rakyat telah menjadi prinsip yang dipegangnya selama puluhan tahun. Hal tersebut disampaikan Presiden dalam sambutannya pada Rabu, 24 Juni 2026 di Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 yang digelar di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.

“Yang penting, apakah kita sudah berbuat yang terbaik untuk bangsa, rakyat, dan saudara-saudara kita. Saya kira itu yang terpenting,” ucap Presiden Prabowo.

Menurut Presiden, tujuan utama kemerdekaan Indonesia adalah menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh rakyat. Untuk itu, Presiden memilih untuk terus berjuang agar arah pembangunan ekonomi Indonesia sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo turut menceritakan pengalamannya saat menjadi Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Saat itu, cerita Presiden, pendekatan ekonomi yang berkembang cenderung mengedepankan prinsip-prinsip neoliberal yang menempatkan mekanisme pasar sebagai solusi utama.

“Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara. Tidak mengerti apa arti bernegara. Tidak mengerti kenapa kita mau merdeka,” katanya.

Kemerdekaan Indonesia, tegas Kepala Negara, memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada sekadar terbebas dari penjajahan. Presiden menekankan bahwa negara harus memastikan masyarakat memperoleh kehidupan yang layak, mulai dari akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga tempat tinggal yang memadai.

“Itu tujuan kita merdeka. Kita bukan merdeka hanya sekedar untuk merdeka. Untuk apa kita punya DPR? Untuk apa kita punya DPD? Untuk apa kita nyanyi lagu kebangsaan? Kalau rakyat kita tidak sejahtera,” tuturnya.

“Karena itulah saya bertekad, saya berjuang. Saya terus di politik. Kalah, saya maju lagi. Kalah, maju lagi. Karena saya melihat belum ada usaha besar dari elit Indonesia untuk memperkuat rakyat Indonesia dari bawah,” lanjutnya.

(BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Hadiri Puncak PENAS Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo Bersama 50 Ribu Peserta

0

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS PRESIDEN RI—Presiden Prabowo Subianto menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 yang digelar di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Rabu, 24 Juni 2026.

Setibanya di lokasi acara, masyarakat menyambut antusias kehadiran Presiden Prabowo. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara tampak mengenakan Upiya Karanji, penutup kepala khas Gorontalo yang menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Kegiatan yang mengusung tema “Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan Nasional” tersebut dihadiri sekitar 50 ribu peserta yang berasal dari berbagai unsur, mulai dari petani dan nelayan, pemerintah daerah, organisasi terkait, hingga para pelaku sektor pertanian dan pangan.

Rangkaian acara diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA). Acara kemudian dilanjutkan dengan persembahan tarian kolosal argomaritim yang dibawakan oleh siswa-siswi SMA/SMK se-Gorontalo.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin oleh Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo Ahmad Faisal, penyampaian laporan Ketua Panitia Penyelenggara Pekan Nasional/Ketua Umum KTNA Nasional Muhammad Yadi Sofyan Noor, serta penyampaian laporan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelum Presiden Prabowo menyampaikan sambutannya pada PENAS Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026.

Dalam laporannya, Mentan Andi Amran menyampaikan bahwa kegiatan PENAS XVII diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah Indonesia dan merepresentasikan kekuatan besar sektor petani dan nelayan nasional.

“Kami laporkan Bapak Presiden, yang hadir 38 provinsi seluruh Indonesia dan 400-an kabupaten se-Indonesia yang hadir pada hari ini mewakili petani 162 juta dengan keluarganya, nelayan 14 juta, kami bersama Menteri KKP, totalnya 178 juta seluruh Indonesia,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan rasa terima kasih dan kebanggaan atas undangan serta kesempatan untuk hadir langsung di tengah petani dan nelayan Indonesia. Kepala Negara menegaskan bahwa kehadirannya dalam forum tersebut memiliki makna khusus, mengingat sejarah panjang keterlibatannya dalam dunia pertanian.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih atas kehormatan yang besar diberikan kepada saya. Saya diundang sehingga saya bisa hadir di tengah-tengah saudara-saudara di acara yang sangat mulia ini, sangat penting yaitu Pekan Nasional Petani dan Nelayan Andalan XVII Tahun 2026,” tutur Presiden.

Kepala Negara juga menegaskan kedekatan historis antara dirinya dengan petani dan nelayan Indonesia, yang menurutnya telah terjalin sejak lama. Presiden Prabowo menyebut bahwa pengabdiannya sebagai mantan prajurit menjadi alasan kedekatan tersebut.

“Saya mantan prajurit Indonesia, dan prajurit Indonesia dari lahirnya tentara Indonesia, prajurit Indonesia, tentara Indonesia selalu didukung oleh petani dan nelayan, selalu dibantu oleh petani dan nelayan,” ucap Presiden.

Usai menyampaikan sambutan, Presiden Prabowo meninjau Teknologi Budidaya Padi Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System (PM-AAS) serta area Gelar Teknologi yang menampilkan berbagai inovasi di bidang pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan teknologi pendukung swasembada pangan.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut antara lain sejumlah menteri kabinet Merah Putih, Kepala Daerah, Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, serta Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.

(BPMI Setpres)

Di PENAS Petani dan Nelayan XVII, Presiden Prabowo Apresiasi Peran Strategis Petani dan Nelayan bagi Bangsa

0

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS PRESIDEN RI—Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa petani dan nelayan memiliki peran yang sangat penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan nasional saat ini. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara saat memberikan sambutan pada Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, Rabu, 24 Juni 2026.

Dalam sambutannya, Presiden Prabowo mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya Republik Indonesia, para petani dan nelayan telah menjadi penopang utama perjuangan bangsa. Menurut Presiden, dukungan masyarakat desa, petani, dan nelayan menjadi kekuatan penting bagi para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Waktu kita mendeklarasikan, kita memproklamasikan kemerdekaan kita, belum ada negara, belum ada anggaran, belum ada APBN, belum ada gaji. Mereka yang memilih Republik Indonesia, memilih karena hati, karena cinta bangsa Indonesia, bukan karena gaji. Tapi tentara waktu itu ditopang, didukung, makanan diberi oleh petani-petani dan nelayan-nelayan kita di seluruh Indonesia,” ujar Presiden.

Presiden Prabowo juga mengenang pengalamannya saat masih menjadi prajurit muda yang merasakan langsung dukungan dan pengorbanan masyarakat di pedesaan. Meski hidup dalam keterbatasan, para petani tetap membantu prajurit yang bertugas menjaga negara.

“Saya waktu prajurit muda, waktu saya di desa-desa, saya di gunung-gunung, saya juga merasa dibantu oleh para petani. Mereka hidupnya susah. Untuk masak harus cari kayu, jalan berkilo-kilo. Untuk ambil air, susah, harus jalan berkilo-kilo. Tetapi mereka tetap masak untuk prajurit-prajurit TNI,” ungkap Presiden.

Atas dasar pengalaman tersebut, Presiden Prabowo meminta seluruh prajurit dan pemimpin bangsa untuk tidak melupakan jasa para petani dan nelayan yang selama ini menjadi penopang kehidupan bangsa. Kepala Negara menegaskan bahwa sektor pangan merupakan fondasi utama keberlangsungan sebuah negara.

“Para petani dan nelayan adalah penghasil makanan, penghasil pangan. Tidak ada negara bisa berdiri, tidak ada negara bisa bertahan, bahkan tidak ada peradaban yang bisa bertahan tanpa pangan,” tegas Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo juga menyampaikan rasa syukur atas capaian swasembada pangan yang berhasil diraih Indonesia dalam satu tahun delapan bulan terakhir. Menurut Presiden, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras petani, nelayan, dan seluruh pihak yang terlibat dalam pembangunan sektor pertanian dan perikanan nasional.

“Telah banyak yang paling besar kita capai, dan saya merasa bersyukur adalah kita swasembada pangan. Kita produksi pangan, beras, jagung, hampir semua komoditas pangan kita produksi, dan produksi beras dan jagung kita tertinggi sepanjang negara kita berdiri,” ucap Presiden.

Presiden menambahkan bahwa capaian tersebut tidak terlepas dari kerja kolaboratif berbagai kementerian dan lembaga, termasuk dukungan TNI dan Polri yang turut terlibat dalam penguatan sektor pangan nasional. Presiden Prabowo pun menyampaikan penghargaan dan rasa hormat kepada seluruh petani dan nelayan Indonesia atas dedikasi serta kerja keras mereka dalam menjaga ketahanan pangan nasional.

“Terima kasih seluruh masyarakat tani dan nelayan Indonesia, terima kasih kerja keras saudara-saudara. Perjalanan masih jauh, saudara-saudara telah membuktikan saudara terus semangat, sebagai produsen pangan, saudara-saudara sesungguhnya adalah tulang punggung Republik Indonesia,” tandas Presiden.

(BPMI Setpres)

Presiden Prabowo: Swasembada Pangan dan Energi Jadi Bukti Nyata Kemandirian Bangsa

0

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS PRESIDEN RI—Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya untuk mewujudkan kemandirian bangsa melalui penguatan sektor pangan dan energi. Hal tersebut disampaikan Kepala Negara saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 yang digelar di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Rabu, 24 Juni 2026.

Di hadapan ribuan petani dan nelayan dari seluruh Indonesia, Presiden Prabowo menekankan bahwa pemerintah terus bekerja keras melakukan berbagai pembenahan untuk mengatasi berbagai tantangan yang selama ini menghambat kemajuan bangsa. Presiden Prabowo juga menegaskan tekad pemerintah untuk menjaga kekayaan nasional agar dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.

“Upaya kita tidak segera, tapi sekarang sudah mulai kelihatan. Usaha kita yang sudah kelihatan di depan mata, bukan di depan mata, nyata, yaitu swasembada pangan,” ujar Kepala Negara.

Presiden Prabowo mengingatkan bahwa pengalaman krisis global, termasuk pandemi Covid-19, menunjukkan pentingnya kemandirian pangan. Dalam situasi krisis, negara-negara produsen pangan cenderung memprioritaskan kebutuhan dalam negeri sehingga pasokan pangan global menjadi terbatas.

“Sekarang sudah mulai kelihatan. Usaha kita yang sudah kelihatan nyata yaitu swasembada pangan,” tegas Presiden Prabowo.

Selain itu, Presiden Prabowo mengatakan kebutuhan pangan merupakan kebutuhan dasar yang tidak dapat ditunda. Oleh karena itu, pemerintah terus berupaya memastikan ketersediaan pangan nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan petani dan nelayan sebagai ujung tombak ketahanan pangan Indonesia.

Kepala Negara juga mengungkapkan bahwa keberhasilan sektor pangan nasional mulai mendapat perhatian dunia. Indonesia kini memiliki surplus sejumlah komoditas strategis, termasuk pupuk, sehingga mampu membantu memenuhi kebutuhan negara lain. Selain itu, sejumlah negara juga mulai meminta pasokan beras dan jagung dari Indonesia.

“Alhamdulillah kita sekarang sudah mulai ekspor, kita sekarang bantu negara-negara lain. Saya ditelepon Perdana Menteri Australia, beliau terima kasih Indonesia punya surplus pupuk, dan mereka minta apakah boleh kita jual ke mereka. Saya bilang, jual, kirim ke mereka. Negara-negara banyak yang minta pupuk dari kita. Negara-negara lain banyak minta beras dari kita, jagung dari kita. Silakan, asal harganya benar,” ungkap Kepala Negara

Selain swasembada pangan, Presiden juga menegaskan target pemerintah untuk mencapai swasembada energi. Salah satu langkah strategis yang akan segera dilakukan adalah peluncuran bahan bakar B50 pada Juli mendatang yang memanfaatkan campuran 50 persen biodiesel berbasis kelapa sawit.

“Bulan Juli ini, berapa hari lagi, kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri, dan kita akan menghemat banyak sekali. Saya perkirakan 3 tahun lagi, maksimal 4 tahun lagi, kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apapun untuk BBM kita, untuk energi kita,” imbuh Presiden Prabowo.

Menutup sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi kepada seluruh petani, nelayan, buruh, ulama, santri, prajurit TNI, anggota Polri, serta Aparatur Sipil Negara yang terus mendukung pembangunan nasional. Kepala Negara meyakini bahwa persatuan seluruh elemen bangsa menjadi modal utama untuk membawa Indonesia menjadi negara yang semakin maju, kuat, dan sejahtera.

“Terima kasih semoga Allah SWT, Tuhan Maha Besar, Tuhan Maha Kuasa, selalu melindungi petani dan nelayan kita di mana pun saudara lagi berjuang,” pungkas Presiden Prabowo.

(BPMI Setpres)

Di PENAS XVII, Presiden Prabowo Tinjau Teknologi Pertanian Modern untuk Perkuat Swasembada Pangan

0

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS PRESIDEN RI—Presiden Prabowo Subianto meninjau Teknologi Budidaya Padi Pertanian Modern Model Advanced Agricultural System (PM-AAS) serta area Gelar Teknologi yang menampilkan berbagai inovasi di bidang pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, dan teknologi pendukung swasembada pangan. Peninjauan tersebut dilakukan dalam rangkaian acara Puncak Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII Tahun 2026 di Sport Center Limboto, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, pada Rabu, 24 Juni 2026.

Dalam kunjungan tersebut, Presiden Prabowo melihat langsung penerapan teknologi budidaya padi dengan pendekatan pertanian modern yang mengedepankan peningkatan produktivitas, efisiensi, serta penguatan ketahanan pangan nasional. Teknologi PM-AAS menjadi salah satu inovasi yang ditampilkan sebagai bagian dari upaya transformasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi dan mekanisasi.

Dalam keterangannya usai peninjauan, Presiden Prabowo menyampaikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dikembangkan di sektor pertanian. Presiden menilai capaian teknologi pertanian saat ini bersifat revolusioner.

“Saya kira banyak sekali inovasi, teknologi baru, teknik-teknik baru yang dikembangkan oleh masyarakat pertanian dipimpin Menteri Pertanian hasilnya sangat, menurut saya cukup revolusioner. Yang tadinya menghasilkan 5 ton gabah, sekarang bisa 10 ton lebih, 12 ton. Kalau begitu kan naik 100 persen produktivitas kita,” ucap Presiden.

Presiden menegaskan optimisme bahwa Indonesia berada pada jalur yang tepat untuk memperkuat ketahanan pangan nasional, bahkan menuju posisi sebagai lumbung pangan dunia. Kepala Negara juga menekankan pentingnya keberlanjutan sistem pertanian serta peningkatan kesejahteraan petani melalui pemanfaatan teknologi yang terus dikembangkan.

“Saya kira tidak lama lagi kita bisa jadi lumbung padi dunia. Kita bisa bantu banyak negara. Tapi intinya sekarang kita bersyukur, kita jaga. Ini tidak boleh fenomena satu tahun, dua tahun, harus sistem yang berkelanjutan. Petani kita harus hidup dengan baik, teknologi harus kita belajar secepat mungkin,” tuturnya.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya penguatan seluruh rantai produksi pangan melalui strategi intensifikasi, ekstensifikasi, dan hilirisasi untuk meningkatkan kualitas dan keberagaman hasil pertanian nasional.

“Jadi yang kita produksi nanti kualitasnya sangat baik. Tidak hanya beras, tidak hanya jagung, tapi singkong, gula, kedelai, semua, sorgum, sagu. Ini semua karunia dari Maha Kuasa. Lahan kita cukup, tanah kita bagus, tinggal pengairan nanti kita bisa atur. Kita juga bersyukur kita sudah punya teknologinya,” jelas Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyampaikan optimisme terhadap perkembangan sektor pertanian nasional yang dinilai makin kuat dan menjadi fondasi penting ketahanan negara.

“Saya kira saya sangat bahagia kita lihat perkembangan ini, kita optimis ini. Semua negara besar, negara kuat itu _back up_nya, landasannya adalah pertanian yang kuat. Produksi pangan aman, kita menghadapi banyak tantangan kita aman,” ujarnya.

Terkait pemerataan penerapan teknologi pertanian, Presiden Prabowo menegaskan bahwa inovasi yang ada akan terus disosialisasikan dan diterapkan secara luas hingga ke seluruh daerah di Indonesia.

“Ini kita ingin supaya disosialisasikan, diajarkan ke semua daerah. Kita mau tiap desa bisa swasembada, tiap kecamatan swasembada, tiap kabupaten swasembada, tiap provinsi swasembada minimal. Kalau bisa provinsi produksi untuk eskpor, produksi untuk ke tempat lain. Ini kita punya strategi ke depan,” ucap Presiden.

(BPMI Setpres)