“Cing Eling”: Dari Pengingat Sederhana Jadi Energi Besar Persit Kodim0612/Tasikmalaya

0
27

Tasikmalaya,–INDOTIPIKOR.COM -MEDIA LOYALIS TNI— Jumat 24 April 2026 — Ada satu kalimat sederhana yang menggema, namun terasa menancap dalam: “Cing eling…” Sebuah ungkapan ringan, tapi justru menjadi napas utama dalam Pertemuan Gabungan Persit Kartika Chandra Kirana Jajaran Cabang XXIII Kodim 0612/Tasikmalaya Koorcab Rem 062 PD III/Siliwangi.
Hari itu bukan sekadar agenda organisasi. Ia berubah menjadi ruang refleksi, tempat para istri prajurit tidak hanya berkumpul, tetapi juga saling menguatkan, mengingatkan, dan menata ulang arah kehidupan.
Kegiatan diawali dengan sentuhan yang berbeda. Para anggota Persit diajak melihat sekaligus membeli produk UMKM karya sesama anggota produk yang telah berizin, sekaligus menjadi simbol kemandirian dan semangat berkarya dari lingkungan Persit sendiri.
Kehadiran Pembina Persit, Dandim 0612/Tasikmalaya Letkol Czi M. Imvan Ibrahim, S.Sos., M.Han., bersama Ketua Persit Ny. Rima Mutia Imvan Ibrahim, S.Sos., menghadirkan energi yang hangat dan membumi. Turut hadir pula Wakil Ketua Ny. Ai Wawan MN, Kasdim Mayor Czi Wawan MN, serta Pasipers Kapten Inf Sulaeman.
Ratusan anggota Persit dari seluruh jajaran, mulai staf Kodim hingga Koramil, memenuhi ruangan dalam satu kebersamaan yang utuh. Momen foto bersama menjadi simbol kuat: bahwa di balik tugas suami, ada barisan perempuan tangguh yang selalu siap mendukung dalam diam.
Rangkaian acara dimulai dengan doa, dilanjutkan Indonesia Raya dan Hymne Persit yang menggema penuh semangat. Namun, inti dari kegiatan terasa saat pengarahan dari Pembina Persit.


Dengan gaya yang sederhana namun menyentuh, beliau mengajak para ibu untuk tidak lupa menghitung kehidupan bukan sekadar hari, tapi makna. Mengingat akhirat, menumbuhkan rasa syukur, dan tetap optimis dalam menjalani peran sebagai istri dan ibu.
Pesan yang disampaikan bukan hanya nasihat, tapi bekal hidup: Tetap fokus pada tujuan, cari rezeki halal, hilangkan prasangka, dan jaga kepercayaan dengan husnudzon.
Sebuah kalimat reflektif pun menguatkan suasana: “Benar belum tentu baik, dan baik belum tentu benar.”
Mengajarkan bahwa hidup butuh kebijaksanaan, bukan sekadar pembenaran.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nama baik suami dan satuan, tetap rendah hati, serta membiarkan doa menjadi kekuatan yang meninggikan.
Setelah memberikan arahan, Pembina Persit meninggalkan kegiatan karena agenda lanjutan. Namun, pesan yang ditinggalkan terasa menetap.
Kegiatan dilanjutkan oleh Ketua Persit Ny. Rima Mutia Imvan Ibrahim yang mengajak seluruh anggota kembali memahami jati diri melalui nilai-nilai Suluh Persit: suci, setia, sepi ing pamrih, rame ing gawe, ikhlas, rela, bijaksana, cendekia, berani, dan bertanggung jawab.
Beliau juga menekankan pentingnya etika berorganisasi tentang menghargai sesama, membangun kebiasaan sederhana seperti senyum dan sapa, serta menjaga hubungan sosial yang sehat.
Dalam penyampaiannya, beliau mengingatkan pentingnya support system dalam keluarga. Bahwa masalah tidak harus dipendam sendiri, dan komunikasi menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan.
Di tengah era digital, pesan beliau semakin relevan: bijak dalam bermedia sosial, manfaatkan peluang usaha, dan jauhi sisi negatif seperti pinjaman online dan judi online.
Dan di situlah kembali terdengar: “Cing eling… cing eling…”
Sebuah pengingat agar selalu sadar, waspada, dan tidak terlena oleh keadaan.
Menjelang akhir, beliau melontarkan satu pertanyaan sederhana yang menggugah: “Sudahkah ibu-ibu bersyukur hari ini?”
Karena pada akhirnya, kekuatan seorang perempuan bukan hanya pada apa yang ia miliki, tetapi pada bagaimana ia memaknai hidup.
Kegiatan semakin lengkap dengan sosialisasi dari Pegadaian, Bank BWS, dan Amitra Travel yang membuka wawasan baru bagi anggota Persit dalam bidang ekonomi dan peluang usaha.
Tak hanya itu, kreativitas anggota juga ditampilkan melalui kerajinan tangan, hiburan, hingga pembagian doorprize dan cinderamata yang menambah semarak suasana.
Acara ditutup dengan Mars Persit dan doa bersama, mengikat seluruh rangkaian dalam satu harapan yang sama.
Hari itu, “Cing eling” bukan sekadar kata. Ia menjadi pengingat yang hidup bahwa dalam setiap langkah, ada nilai yang harus dijaga, ada keluarga yang harus diperjuangkan, dan ada doa yang tak boleh terlewatkan.

Lokasi Kegiatan Di Gedung Juang 45

PENDIM