Sabtu, November 7, 2026
Beranda KEMENTERIAN Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengoptimalkan potensi pasar wisatawan domestik berdaya beli tinggi (affluent...

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengoptimalkan potensi pasar wisatawan domestik berdaya beli tinggi (affluent travelers) melalui penyelenggaraan “Nusantara Luxury Exchange.

0
16

Jakarta,–INDOTIPIKOR.COM–MEDIA LOYALIS KEMENTERIAN— 6 November 2026 – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengoptimalkan potensi pasar wisatawan domestik berdaya beli tinggi (affluent travelers) melalui penyelenggaraan “Nusantara Luxury Exchange: Premium Business Matching” di Hotel Majapahit, Surabaya.

Forum bisnis yang berlangsung pada 28 Oktober 2026 tersebut mempertemukan 12 penyedia layanan pariwisata premium Indonesia (sellers) dengan agen perjalanan, luxury concierge, priority banking, serta corporate planners (buyers). Wisatawan affluent merupakan segmen wisatawan berdaya beli tinggi yang mengutamakan kenyamanan dan pengalaman perjalanan eksklusif.

Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini mengatakan, Nusantara Luxury Exchange tidak sekadar bertujuan meningkatkan jumlah perjalanan wisata, tetapi juga nilai belanja wisatawan domestik.

“Fokus utama kami bukan lagi sekadar mengejar volume perjalanan, melainkan meningkatkan nilai belanja wisatawan nusantara per perjalanan. Melalui Nusantara Luxury Exchange, kami ingin mengalihkan sebagian belanja leisure outbound dari pasar affluent menjadi belanja pariwisata domestik. Indonesia memiliki kekayaan destinasi kelas dunia yang sangat luar biasa, kini tugas kita bersama adalah mengemas dan menyajikannya sebagai produk eksklusif berkualitas tinggi yang mudah dipilih dan dibeli,” ujar Ni Made Ayu Marthini dalam keterangannya, Jumat (6/11/2026).

Made menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang untuk menangkap peluang dari besarnya pasar wisatawan Indonesia yang bepergian ke luar negeri. Berdasarkan data BPS tahun 2025, tercatat 9,16 juta perjalanan wisatawan nasional ke luar negeri dengan rata-rata pengeluaran mencapai 1.875 dolar AS per perjalanan. Lebih dari 50 persen perjalanan tersebut bertujuan untuk berlibur.

Pemilihan Surabaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan kali ini mempertimbangkan pertumbuhan ekonominya yang mencapai 5,87 persen pada 2025, melampaui rata-rata nasional. Surabaya juga memiliki posisi strategis dengan dukungan Bandara Internasional Juanda sebagai pintu gerbang perjalanan wisatawan menuju berbagai destinasi Nusantara.

Dalam forum tersebut, sebanyak 12 penyedia layanan pariwisata eksklusif, mulai dari luxury resort, operator kapal pinisi, hingga penyedia pengalaman gastronomi premium, memperkenalkan produk unggulan yang berfokus pada tiga pilar utama, yakni Marine, Wellness, dan Gastronomy. Penawaran tersebut mengedepankan keistimewaan (privilege), keaslian budaya (authenticity), serta privasi bagi wisatawan.

Made mengatakan, segmen luxury tourism memiliki potensi besar dalam meningkatkan kontribusi ekonomi lokal sekaligus mendukung kampanye nasional #DiIndonesiaAja. Melalui sesi Exclusive B2B Table Top, forum ini diharapkan menghasilkan penawaran harga (quotation), pemesanan langsung (booking), hingga kemitraan berkelanjutan yang memberikan manfaat ekonomi bagi industri pariwisata nasional.

“Luxury tourism saat ini telah mengalami redefinisi. Kemewahan bukan lagi sebatas fasilitas megah, melainkan keunikan pengalaman yang personal (bespoke), privasi, serta keterikatan dengan budaya dan ekonomi lokal. Kami optimistis forum business matching ini tidak hanya melahirkan transaksi konkret dan kemitraan jangka panjang, tetapi juga mengukuhkan persepsi bahwa pengalaman wisata kelas dunia berskala internasional sepenuhnya dapat dinikmati di dalam negeri,” kata Made.

Biro Komunikasi
Kementerian Pariwisata