Leluhur kita memahat Bangau Baka di candi agar kita waspada terhadap serigala berbulu domba, atau dalam hal ini, bangau berbulu KIYAI DAN USTAD.

0
9

INDOTIPIKOR.COM—Di dinding batu Candi Jago dan candi surowono, para leluhur kita sebenarnya sudah lama menitipkan pesan melalui pahatan Pasemon yang elegan namun pedas. Salah satunya adalah fragmen Bangau Baka sebuah dongeng fabel yang nampaknya hari ini sedang “reinkarnasi” di dunia nyata, tepatnya di sebuah lingkungan yang seharusnya menjadi tempat paling suci untuk mencari ilmu: sebuah pesantren di Pati.
Kisah Bangau Baka menceritakan seekor bangau tua yang sudah kehilangan kelincahannya untuk berburu. Alih-alih menerima kenyataan, ia memakai jubah “kesucian”, berdiri dengan satu kaki di tepi telaga, dan memasang wajah alim seolah sedang bermeditasi tingkat tinggi. Kepada ikan-ikan yang lugu, ia menjanjikan keselamatan di danau yang lebih luas, namun nyatanya, ikan-ikan itu hanya berakhir di dalam perutnya yang buncit.
Kini, lakon serupa nampaknya sedang dimainkan di Ponpes Ndolo Kusumo, Pati. Seorang pengasuh sosok yang dianggap sebagai “mata air” ilmu diduga kuat telah berubah menjadi sang Bangau Baka. Ia tidak memangsa ikan, melainkan masa depan para santrinya sendiri. Bedanya, jika di relief candi sang bangau hanya mematuk satu persatu, di sini ada 50 santri yang dikabarkan menjadi korban. Sebuah angka yang bukan lagi sekadar statistik, melainkan jeritan massal yang tertahan oleh tembok kekuasaan.
Jika dalam fabel sang bangau menggunakan narasi palsu soal “telaga yang akan kering”, di dunia nyata sang pemangsa menggunakan senjata yang lebih modern: Uang. Kuasa hukum salah satu korban, Ali Yusro, membeberkan bahwa kasus ini sebenarnya sudah lama berkarat, namun tertutup rapat oleh lapisan rupiah yang tebal.


Sepertinya, di negeri ini, hukum terkadang mirip dengan relief candi: diam membatu. Meski saksi sudah bicara dan bukti sudah di depan mata, sang pelaku masih menghirup udara bebas dengan santainya. Seolah-olah ada kekuatan “gaib” yang membuat borgol polisi tiba-tiba menjadi sangat elastis atau malah enggan mengunci.
Kontras Situasional: Santri vs Sang Penguasa
Unsur Dalam Kisah Bangau Baka Dalam Realita di Pati
Bangau Baka Pencitraan Menjadi USTAD KIAI ATAU  pendeta suci bertobat
Sang kyai Menjadi pengasuh pesantren yang dihormati
Modus Bangau Baka menawarkan perlindungan ke kolam baru
Sang kyai Menjanjikan pendidikan dan akhlak
Kenyataan bangau Baka Memangsa ikan satu per satu
Sang kyai melakukan tindakan keji pada 50 santri
Status Hukum Diakhiri oleh capit kepiting yang bijak
Sang kyai salalu lolos dan berkeliaran (Menunggu “kepiting” hukum)
Pesan Moralnya adalah Jangan Biarkan “Kepiting” Keadilan Terlambat Datang
Leluhur kita memahat Bangau Baka di candi agar kita waspada terhadap serigala berbulu domba, atau dalam hal ini, bangau berbulu pendeta. Pesan moralnya jelas: Kewaspadaan adalah tameng utama melawan janji manis.
Namun, ada satu bagian yang belum lengkap dari cerita di Pati ini: Kematian Sang Penipu. Jika dalam fabel ada seekor kepiting bijaksana yang akhirnya menjepit leher sang bangau hingga tamat, maka publik kini sedang bertanya-tanya: Di mana kepiting keadilan kita? Apakah ia sedang tertidur, atau malah capitnya sudah tumpul karena tergiur “pakan” yang sama?
Dunia pendidikan tidak butuh predator yang pandai bersajak atau berpencitraan. Jika 50 santri saja belum cukup untuk menggerakkan palu keadilan, lantas berapa banyak lagi korban yang harus dijadikan tumbal demi memuaskan nafsu sang Bangau Baka modern ini?—RED