Akankah Suara Mereka Direspon..??, 14 Tahun Menunggu Kepastian: Harapan Warga Transmigrasi di Depan Pintu Kantor Bupati Musi Banyuasin.

0
6

Musi Banyuasin,–INDOTIPIKOR.COM— Kamis 30 April 2026 — Di sebuah sudut lobi Kantor Bupati Kabupaten Musi Banyuasin, sekelompok warga berdiri dengan wajah penuh harap. Mereka bukan datang untuk berunjuk rasa, bukan pula untuk mencari sensasi. Mereka datang membawa satu hal yang jauh lebih berat: harapan yang telah mereka genggam selama 14 tahun.

Dengan pakaian sederhana dan dokumen di tangan, langkah mereka terasa seperti membawa cerita panjang yang belum selesai. Mereka adalah bagian dari warga transmigrasi yang sejak awal menaruh kepercayaan besar kepada negara—meninggalkan kampung halaman, menembus harapan baru di tanah yang dijanjikan menjadi masa depan.

Namun waktu berjalan, dan janji itu tak kunjung sepenuhnya terwujud.

Di depan lambang daerah yang terpampang megah, mereka berdiri dalam diam. Tidak ada teriakan. Tidak ada amarah yang meledak. Hanya tatapan yang menyimpan kelelahan panjang—dan keyakinan bahwa pemerintah daerah masih memiliki ruang untuk mendengar.

“Kami tidak datang untuk melawan, kami datang untuk meminta keadilan,” ungkap salah satu perwakilan dengan suara lirih namun tegas.

Selama lebih dari satu dekade, mereka bertahan dalam kondisi yang jauh dari harapan awal. Lahan yang dijanjikan belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan, kepastian hukum masih menggantung, dan kehidupan yang seharusnya membaik justru berjalan di tempat.

Ironisnya, program transmigrasi yang sejatinya menjadi simbol pemerataan pembangunan, kini menyisakan cerita pilu bagi sebagian warganya.

Hari itu, langkah mereka menuju Kantor Bupati bukan sekadar kunjungan biasa. Itu adalah simbol terakhir dari sebuah kepercayaan yang masih mereka jaga—bahwa pemerintah daerah, khususnya Bupati Musi Banyuasin, akan membuka pintu dialog dan menghadirkan solusi nyata.

Mereka tidak meminta lebih. Tidak juga menuntut hal di luar hak. Mereka hanya ingin apa yang dulu dijanjikan—kepastian atas tanah, kejelasan masa depan, dan pengakuan atas perjuangan mereka sebagai warga negara.

Kini, semua mata tertuju pada satu pertanyaan besar:
Akankah suara mereka didengar?

Di tengah segala keterbatasan, mereka tetap percaya—bahwa keadilan mungkin datang, meski terlambat. Dan di balik pintu Kantor Bupati itu, mereka berharap, masih ada hati nurani yang mau membuka dan menjawab penantian panjang ini.

REDAKSI