MOJOKERTO ––INDOTIPIKOR.COM-MEDIA LOYALIS KEMENTERIAN— Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menyebutkan, keberadaan pondok pesantren sangat berjasa sebagai pilar utama pembentukan karakter masyarakat desa, sekaligus menjadi pusat berkembangnya pendidikan agama Islam.
Di sisi lain, berdirinya pesantren juga menjadi motor penggerak perjuangan kemerdekaan melalui fatwa Resolusi Jihad, pada 22 Oktober 1945 di Surabaya yang menggerakkan barisan santri untuk berjuang membela Tanah Air.
“Kami meyakini, bahwa lembaga pondok pesantren sudah teruji sepanjang republik ini ada, atau sebelum republik ini ada. Karena pondok pesantren, madrasah, sudah berdiri sebelum Indonesia merdeka. Dan memberikan kontribusi terbaiknya buat kemerdekaan republik Indonesia,” jelas mantan Wakil Ketua MPR RI itu saat memberi sambutan pada agenda Prosesi Wisuda Kelas Akhir Pondok Pesantren Amanatul Ummah, di Desa Kembangbelor, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, pada Minggu (14/06/2026).

Lebih luas, Mendes Yandri juga menambahkan, pondok pesantren memegang peran fundamental sebagai pilar moral umat. Karenanya, ia berharap agar pesantren terus relevan dengan kondisi zaman, demi memastikan nilai-nilai luhur tersebut terus terjaga di tengah berbagai tantangan dan isu miring oknum tertentu.
Kehadiran pesantren dinilai sangat krusial dalam pembinaan generasi muda, karena menawarkan pendidikan holistik. Sebab pesantren tidak hanya membekali ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter berakhlak mulia dan membentengi mereka dari pengaruh negatif era modernisasi melalui pengawasan intensif selama 24 jam.
“Kita doakan pondok pesantren terus menjadi kebanggaan kita semua, walaupun ada oknum-oknum pondok pesantren yang mencederai nilai-nilai mulia pondok pesantren hari ini,” papar Menteri asal Bengkulu Selatan ini yang juga didampingi Istri dan kini menjabat Bupati Serang, Ratu Rachmatu Zakiyah.
Bahkan menurut Mendes Yandri, pondok pesantren sejauh ini tetap konsisten mendidik generasi muda untuk menghargai perbedaan, hidup rukun dalam keberagaman, serta menjauhi sikap-sikap intoleran.
Di samping itu, pesantren juga memberi pedoman yang lengkap kepada generasi muda untuk menyaring dampak buruk globalisasi dan budaya asing, yang bertentangan dengan nilai agama melalui penguatan spiritual yang kuat.
“Padahal ribuan pondok pesantren di republik ini, alhamdulilah tetap komitmen, tetap mempunyai dedikasi luar biasa, untuk memastikan sumber daya manusia, dari sisi karakter, kemudian komitmen kebangsaannya itu melampaui lembaga pendidikan yang lain,” pungkasnya.
Hadir dalam kesempatan itu; Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Amanatul Ummah KH. Asep Saifuddin Chalim, Bupati Mojokerto sekaligus Ketua Yayasan Ponpes Amanatul Ummah, Muhammad Al Barra (Gus Barra), Staff Khusus Menteri Desa dan PDT sekaligus Kepala Sekolah MTs. Istimewa Ponpes Amanatul Ummah, M. Afif Zamroni .
Teks: Dayat/Humas





