INDOTIPIKOR.COM-MEDIA FORSIMEMA RI—Ketua PA Ambarawa tak gunakan mobil dinas saat mudik, tekankan integritas dan kehati-hatian dalam menjaga amanah fasilitas negara.
Meninggalkan kendaraan dinas di kantor bukan semata soal kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga bentuk kehati-hatian agar tidak bersinggungan dengan potensi penyalahgunaan wewenang, sekecil apa pun itu. Ini bukan soal berlebihan. “Ini soal menjaga batas antara amanah dan godaan,” kata Ketua PA Ambarawa, Muh Irfan Husaeni.
Saat sebagian pegawai bersiap menempuh perjalanan mudik, mobil dinas Ketua dan Wakil Ketua PA Ambarawa justru tetap terparkir rapi di garasi kantor.
Diam, namun seolah menyampaikan pesan bahwa tidak semua yang bisa digunakan, harus digunakan.
Menariknya, keputusan tersebut juga mempertimbangkan sisi lain yang sering terlewat. Kendaraan dinas yang tetap berada di kantor, dapat digunakan sewaktu-waktu untuk keperluan mendadak oleh pegawai yang berada paling dekat dengan kantor. Di situlah letak keseimbangannya, antara menjaga integritas, sekaligus memastikan layanan tetap siaga.
Apa yang dilakukan Pimpinan PA Ambarawa mungkin tidak akan menjadi headline besar. Namun dalam kesederhanaannya, ada pesan yang terasa relevan, bahwa integritas sering kali hadir dalam keputusan-keputusan kecil, yang dilakukan secara konsisten, tanpa perlu sorotan.
Menjelang akhir Ramadan, suasana di lingkungan PA Ambarawa terasa berbeda. Bukan karena hiruk pikuk persiapan mudik, melainkan karena sebuah pesan sederhana yang disampaikan dengan tenang, namun mengendap cukup dalam. Muh Irfan Husaeni, dalam sebuah kultum, memilih berbicara tentang hal yang kerap luput dari perhatian, kehati-hatian dalam menggunakan fasilitas negara. Di tengah kebiasaan yang sering dimaklumi, pilihan ini justru terasa tidak biasa. Karena itu, ia menjadi penting.
Di hadapan jajaran pegawai, ia menyampaikan bahwa kendaraan dinas bukan sekadar alat transportasi, melainkan amanah. Karena itu, menjelang Lebaran tahun ini, ia mengambil sikap yang barangkali sederhana, namun sarat makna, tidak membawa mobil dinas untuk pulang kampung.
Sikap itu hadir sebagai pengingat yang halus, bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menjaga amanah. Dan barangkali, justru dari ketenangan sikap seperti itulah, kepercayaan publik perlahan tumbuh. Ia tidak dibangun dalam satu kebijakan besar, melainkan tumbuh perlahan dari sikap-sikap kecil yang konsisten.
Untuk mendapatkan Berita atau Artikel Terbaru MARINews, Follow Channel Whatsapp : MARINews.
Penulis: Masnan Eri Yanto
Humas MA, Jakarta
Kamis,9 April 2026




