MELAWAN LUPA: GEMPA DAN TSUNAMI AMBON 12 MARET 1983

0
25

INDOTIPIKOR.COM-MEDIA NASIONAL–PADA 12 Maret 1983 wilayah Ambon diguncang gempa tektonik berkekuatan Magnitudo 6,7. Episenter terletak pada koordinat 4,056° LS dan 127,924° BT dengan kedalaman sekitar 16.9 km (USGS).

Gempa dangkal ini memicu tsunami dengan ketinggian sekitar 3 meter di beberapa wilayah pesisir Ambon. Meski demikian, peristiwa ini tidak ada laporan korban jiwa sebagaimana dilaporkan dalam berbagai kajian ilmiah (Soetardjo et al., 1985; Latief et al., 2000; Arkwright, 2008).

Secara tektonik, wilayah Ambon berada di kawasan yang sangat kompleks secara tektonik karena dipengaruhi oleh interaksi beberapa sumber gempa di kawasan Busur Banda.

Dinamika sesar aktif di darat maupun di dasar laut sering membangkitkan aktivitas gempa dangkal yang sering terjadi dan dalam kondisi tertentu jika sumbernya di laut dapat memicu tsunami lokal.

Peristiwa tahun 1983 menunjukkan bahwa bahkan gempa dengan magnitudo menengah sekalipun tetap memiliki potensi tsunami jika terjadi di laut dan memicu terjadinya deformasi dan longsoran dasar laut.

Fakta bahwa tsunami setinggi sekitar 3 meter tidak menimbulkan korban jiwa memberikan pelajaran penting. Kemungkinan besar masyarakat saat itu merasakan guncangan gempa yang cukup kuat sehingga secara alami menjauh dari pantai. Dengan kata lain, guncangan gempa itu sendiri menjadi peringatan dini alami bagi masyarakat pesisir.

Namun sejarah juga mengingatkan bahwa wilayah Ambon bukanlah kawasan yang bebas dari ancaman gempa dan tsunami.

Catatan masa lalu menunjukkan beberapa kejadian gempa merusak dan tsunami di kawasan Maluku. Seperti halnya peristiwa Gempa dan Tsunami Ambon 1674 yang merupakan salah satu bencana terbesar di Maluku yang tercatat oleh naturalis Georg Eberhard Rumphius, menimbulkan korban sekitar 2.500 jiwa. Kondisi tektonik yang aktif di Ambon dan sekitarnya membuat risiko tersebut akan selalu ada.

Oleh karena itu, pesan mitigasi dari peristiwa ini sangat jelas. Jika terjadi gempa kuat di wilayah pesisir, maka masyarakat harus segera menjauh dari pantai menuju tempat yang lebih tinggi tanpa menunggu peringatan resmi. Tsunami lokal bisa tiba hanya dalam hitungan menit.

Selain itu, pembangunan wilayah pesisir perlu memperhatikan tata ruang berbasis risiko tsunami, sementara bangunan harus dirancang mengikuti kaidah bangunan tahan gempa. Edukasi dan latihan evakuasi juga menjadi kunci agar masyarakat terbiasa merespons gempa secara cepat dan tepat.

Peristiwa gempa dan tsunami Ambon 1983 mengajarkan bahwa keselamatan sering kali ditentukan oleh kesiapsiagaan. Melawan lupa terhadap peristiwa masa lalu adalah salah satu cara terbaik untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.*

Dr. DARYONO, wakil ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI)