INDONESIA–INDOTIPIKOR.COM–MEDIA LOYALIS TNI—Seleksi untuk menjadi prajurit Komando Pasukan Khusus (Kopassus) dikenal sangat ketat dan menantang, dirancang untuk memilih personel TNI AD terbaik yang mampu menangani misi-misi khusus. Prosesnya melibatkan beberapa tahapan seleksi, baik fisik maupun mental, yang sangat berat.
1. 𝐏𝐞𝐫𝐬𝐲𝐚𝐫𝐚𝐭𝐚𝐧 𝐀𝐰𝐚𝐥
Calon prajurit harus memenuhi persyaratan administratif dan kesehatan umum yang ketat sesuai standar TNI AD, termasuk usia, status kewarganegaraan, dan riwayat kesehatan yang prima
2. 𝐒𝐞𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐓𝐚𝐡𝐚𝐩 𝐈 (𝐒𝐞𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐔𝐦𝐮𝐦)
Ini adalah tahap awal di mana calon diuji bersama dengan calon prajurit TNI AD lainnya. Ujian meliputi:
Administrasi: Pemeriksaan dokumen dan kelengkapan administrasi.
Kesehatan: Pemeriksaan kesehatan menyeluruh, dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Jasmani (Kesemaptaan A & B): Meliputi lari, pull-up, sit-up, push-up, dan shuttle run.
Postur: Penilaian bentuk dan proporsi tubuh.




3. 𝐒𝐞𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐓𝐚𝐡𝐚𝐩 𝐈𝐈 (𝐒𝐞𝐥𝐞𝐤𝐬𝐢 𝐊𝐡𝐮𝐬𝐮𝐬 𝐊𝐨𝐩𝐚𝐬𝐬𝐮𝐬)
Bagi yang lolos tahap I, proses menjadi lebih intensif dan spesifik untuk kebutuhan Kopassus. mencakup:
Tes Psikologi: Penilaian mendalam terhadap aspek psikologis, kepribadian, mental, dan ketahanan stres.
Tes Kesehatan Jiwa: Untuk memastikan stabilitas mental.
Tes Fisik Lanjutan: Ujian fisik yang lebih berat dan spesifik, termasuk renang militer dan kemampuan navigasi darat (orientasi medan).
Wawancara Mendalam: Untuk menggali motivasi, komitmen, dan kepribadian calon prajurit.
4. 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐢𝐝𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐊𝐨𝐦𝐚𝐧𝐝𝐨 (𝐃𝐢𝐤𝐤𝐨)
Mereka yang berhasil melewati semua tahapan seleksi administrasi, kesehatan, dan fisik akan melanjutkan ke Pendidikan Komando (Dikko), yang merupakan inti dari pembentukan prajurit Kopassus. Dikko berlangsung selama kurang lebih 7 bulan dan terbagi dalam tiga tahap:
𝑇𝑎ℎ𝑎𝑝 𝐼 (𝐵𝑎𝑠𝑖𝑠): Fokus pada kemampuan dasar prajurit komando di pusat pelatihan.
𝑇𝑎ℎ𝑎𝑝 𝐼𝐼 (𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐺𝑢𝑛𝑢𝑛𝑔): Latihan di medan alam, fokus pada kemampuan bertahan hidup (survival), navigasi, dan taktik pertempuran di hutan/gunung.
𝑇𝑎ℎ𝑎𝑝 𝐼𝐼𝐼 (𝑅𝑎𝑤𝑎 𝐿𝑎𝑢𝑡): Latihan di medan air (rawa dan laut), fokus pada pertempuran di air, penyelaman, dan infiltrasi pantai.
Seleksi ini dirancang untuk mengeliminasi mereka yang tidak memenuhi standar tinggi yang dibutuhkan oleh pasukan elit, menghasilkan prajurit dengan fisik prima, mental baja, dan keterampilan tempur yang mumpuni.
sangat wajar dan memang sering terjadi bahwa ada peserta didik yang gagal atau mengundurkan diri selama masa Pendidikan Komando (Dikko) Kopassus. Tingkat kelulusan pendidikan ini relatif rendah (hanya sekitar 20-25% dari total peserta) karena standarnya yang sangat tinggi.
𝐤𝐞𝐠𝐚𝐠𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭 𝐭𝐞𝐫𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐛𝐚𝐠𝐚𝐢 𝐟𝐚𝐤𝐭𝐨𝐫:
𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝐾𝑢𝑎𝑡 𝐹𝑖𝑠𝑖𝑘: Beban latihan fisik selama 7 bulan sangat ekstrem dan terus-menerus. Banyak yang gugur karena cedera serius atau kelelahan fisik yang tidak dapat ditoleransi lagi.
𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝐾𝑢𝑎𝑡 𝑀𝑒𝑛𝑡𝑎𝑙/𝑃𝑠𝑖𝑘𝑖𝑠: Tekanan mental selama pendidikan sangat tinggi. Peserta dihadapkan pada situasi penuh stres, kurang tidur, dan kondisi sulit untuk menguji ketahanan mental mereka. Bagi yang tidak tahan tekanan, mereka bisa mengundurkan diri atau didrop oleh instruktur.
𝑃𝑒𝑙𝑎𝑛𝑔𝑔𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐷𝑖𝑠𝑖𝑝𝑙𝑖𝑛: Aturan dalam pendidikan komando sangat ketat. Pelanggaran berat terhadap disiplin militer dapat mengakibatkan pengeluaran dari pendidikan.
𝑇𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑀𝑒𝑚𝑒𝑛𝑢ℎ𝑖 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝐾𝑒𝑚𝑎𝑚𝑝𝑢𝑎𝑛: Meskipun sudah lolos seleksi awal, selama pendidikan peserta harus mencapai standar kemampuan tertentu (misalnya dalam navigasi, menembak, atau survival). Jika tidak mencapai standar yang ditetapkan, mereka dinyatakan gagal.
RED

