MEDIA INDOTIPIKOR.COM—Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran perempuan terhadap risiko, gejala abnormal, serta penerapan pola hidup sehat melalui program CERDIK.
Masalah kesehatan reproduksi masih menjadi tantangan besar bagi perempuan Indonesia, terutama terkait ancaman kanker leher rahim atau kanker serviks. Dalam upaya meningkatkan kesadaran para anggotanya, Dharmayukti Karini Cabang Bitung menggelar sosialisasi kesehatan mendalam yang berfokus pada pencegahan dan deteksi dini. Kegiatan yang berlangsung di Bitung, Jumat, 13 Februari 2026 ini merupakan bagian dari Pertemuan Daerah Dharmayukti Karini Se-Provinsi Sulawesi Utara. Mengangkat tema “Wanita Berdaya, Berkarya Wujudkan Keluarga Sehat, Saling Menghargai Dalam Membangun Silaturahmi”, acara ini menjadi wadah edukasi strategis bagi para istri hakim dan wanita pengadilan.
Ketua Dharmayukti Karini Cabang Bitung, dr. Irma G. Siahainenia Soplantila, hadir langsung sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia menyoroti fakta mengkhawatirkan dimana kanker serviks menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker payudara, dengan angka kasus baru mencapai lebih dari 36.000 setiap tahunnya. “Kesehatan reproduksi bukan hanya soal fungsi biologis, tapi kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Namun, rendahnya minat deteksi dini karena dianggap tabu membuat banyak kasus baru ditemukan setelah masuk stadium lanjut”. ungkap dr. Irma. Beliau menjelaskan bahwa kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada jaringan leher Rahim (serviks). Karena gejalanya sering tidak terlihat di tahap awal, penyakit ini kerap dijuluki sebagai silent killer.
Mengenali Risiko dan Gejala Abnormal
Lebih lanjut, dr. Irma memaparkan berbagai faktor risiko yang perlu diwaspadai diantaranya:
Melakukan hubungan seksual di usia muda;
Berganti-ganti pasangan seksual;
Melakukan hubungan seksual dengan pria yang sering berganti-ganti pasangan;
Merokok ataupun sebagai perokok pasif (terpapar asap rokok);
Infeksi berulang pada alat kelamin, salah satunya karena kurang menjaga kebersihan alat kelamin;
Adanya riwayat tes pap yang abnormal;
Perempuan yang melahirkan banyak anak;
Penurunan kekebalan tubuh; dan
faktor genetik
meskipun pada tahap awal tidak menunjukkan gejala yang jelas, dr. Irma mengimbau para wanita untuk peka terhadap kondisi abnormal. “Segera lakukan pemeriksaan jika mengalami keputihan yang tidak normal, pendarahan abnormal, nyeri panggul, hingga penurunan berat bada tanpa sebab yang jelas”, tegasnya.
Jurus CERDIK dan Gaya Hidup Sehat
Sebagai solusi preventif, sosialisasi ini menekankan pentingnya program CERDIK yang digagas oleh Kementerian Kesehatan. Program ini dirancang untuk memutus rantai faktor risiko penyakit tidak menular, termasuk kanker. Strategi tersebut meliputi:
1.Cek Kesehatan Secara Rutin dengan melakukan pap smear atau IVA test secara berkala;
2.Enyahkan Asap Rokok dengan menghindari polusi asap yang merusak sel tubuh;
3.Rajin Aktivitas Fisik dengan menjaga kebugaran untuk meningkatkan tubuh;
4.Diet Seimbang dengan mengonsumsi makanan bergizi, buah, dan sayur;
5.Istirahat Cukup untuk memberikan waktu bagi tubuh meregenerasi sel;
6.Kelola Stres dengan menjaga Kesehatan mental agar hormon tetap seimbang.
Inovasi dan Pemberdayaan Wanita
Acara ini tidak hanya berkutat pada edukasi medis. Untuk mewujudkan semangat “Wanita Berdaya”, rangkaian kegiatan diisi dengan edukasi penanaman bibit, bazaar hasil tani, serta berbagai perlombaan kreatif. Ketua Pengadilan Negeri Bitung selaku Pelindung Dharmayukti Karini Cabang Bitung, Ibu Cita Savitri, S.H., M.H., memberikan apresiasi penuh atas inisiatif ini. Menurutnya, kesehatan adalah modal utama bagi wanita untuk terus berkarya. “Kegiatan ini harus diejawantahkan dalam karya nyata yang inovatif. Apa yang dilakukan hari ini menunjukkan bahwa wanita tidak hanya berdaya untuk dirinya sendiri, tapi juga mampu memberikan manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya,” ujar Ibu Cita Savitri dalam sambutannya.
Melalui sosialisasi ini, diharapkan para anggota Dharmayukti Karini Sulawesi Utara dapat menjadi duta kesehatan di lingkungan keluarga mereka masing-masing, sekaligus memutus stigma negatif seputar pemeriksaan kesehatan reproduksi.
Penulis: Giovani
Humas MA, Jakarta
Minggu,15 Februari 2026




