No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
  • HUKUM KRIMINAL
  • POLITIK
  • PEMERINTAHAN
  • SOSIAL
  • TNI
  • POLRI
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • NEWS
  • HUKUM KRIMINAL
  • POLITIK
  • PEMERINTAHAN
  • SOSIAL
  • TNI
  • POLRI
  • NASIONAL
  • DAERAH
No Result
View All Result
INDOTIPIKOR
No Result
View All Result
Home MAHKAMAH AGUNG RI

Korupsi Sering Terjadi Karena Tipisnya Keimanan Seseorang,Walaupun Kadang Pelakunya Terlihat Alim.

Redaksi IndoTipikor by Redaksi IndoTipikor
Februari 10, 2026
in MAHKAMAH AGUNG RI
0
Korupsi Sering Terjadi Karena Tipisnya Keimanan Seseorang,Walaupun Kadang Pelakunya Terlihat Alim.
0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookBagikan di WA

Jakarta,—INDOTIPIKOR.COM-MEDIA FORSIMEMA RI—Senin 9 Februari 2026

Iman yang tipis dari sudut pandang moralitas dan spiritual penyebab terjadi nya Niat Korupsi.

Memang benar, bagi banyak orang, iman dan integritas adalah benteng utama dalam menolak godaan materi yang bukan haknya.

​Namun, jika kita melihat fenomena ini secara lebih luas, korupsi biasanya bukan hanya soal “iman yang tipis,” melainkan hasil dari pertemuan antara niat buruk dan sistem yang mendukung.

​Berikut adalah beberapa faktor pendukung mengapa korupsi tetap terjadi:

​1. Faktor Tekanan (Pressure)
​Seseorang mungkin memiliki iman yang cukup, namun ketika dihadapkan pada tekanan ekonomi (seperti biaya pengobatan keluarga atau hutang) atau gaya hidup konsumtif yang berlebihan, benteng moral tersebut bisa mulai goyah.

​2. Faktor Kesempatan (Opportunity)
​Ini adalah masalah sistem. Jika pengawasan lemah, birokrasi berbelit-belit, dan tidak ada transparansi, orang yang beriman sekalipun mungkin merasa “aman” untuk melakukan penyimpangan karena merasa tidak akan ketahuan.

​3. Faktor Pembenaran (Rationalization)
​Banyak koruptor melakukan pembelaan batin, seperti:
​”Saya cuma mengambil sedikit, yang lain lebih besar.”
​”Ini bukan korupsi, tapi uang terima kasih.”
​”Gaji saya tidak layak dibandingkan kerja keras saya.”

​4. Lemahnya Penegakan Hukum
​Iman bersifat internal, namun hukuman bersifat eksternal. Jika hukum tidak memberikan efek jera atau bisa “dibeli”, maka rasa takut kepada Tuhan sering kali kalah oleh rasa berani karena merasa bisa lolos dari hukum dunia.

​Intinya: Keimanan adalah kendali rem yang kuat secara pribadi, tetapi sistem yang bersih dan penegakan hukum yang tegas adalah pagar pembatas yang memastikan kendaraan tidak terjun ke jurang.

Penulis : Syamsul Bahri
Redaksi Pinisi.co.id

Previous Post

Euforia Sambut Promosi Liga 2, PSGC Ciamis Disambut Meriah Masyarakat Tatar Galuh

Next Post

Bersamaan Dengan Hari Pers Nasional Ketum AWDI Berikan Mandat Ke DPW Provinsi Bali

Redaksi IndoTipikor

Redaksi IndoTipikor

Next Post
Bersamaan Dengan Hari Pers Nasional Ketum AWDI Berikan Mandat Ke DPW Provinsi Bali

Bersamaan Dengan Hari Pers Nasional Ketum AWDI Berikan Mandat Ke DPW Provinsi Bali

Browse by Category

  • DAERAH
  • HUKUM KRIMINAL
  • INTERNASIONAL
  • KEJAGUNG RI
  • KEMENTERIAN
  • KPK RI
  • MAHKAMAH AGUNG RI
  • MAHKAMAH KONTITUSI
  • NASIONAL
  • NEWS
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • POLRI
  • SEJARAH
  • SOSIAL
  • TNI
  • NEWS
  • HUKUM KRIMINAL
  • POLITIK
  • PEMERINTAHAN
  • TNI
  • POLRI
  • SOSIAL
  • NASIONAL
  • DAERAH

© 2022 IndoTipikor.Com - Berita Sesuai Fakta by IndoTipikor.

No Result
View All Result
  • Login
  • HUKUM KRIMINAL
  • SOSIAL
  • TNI
  • POLRI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • NASIONAL
  • NEWS
  • DAERAH

© 2022 IndoTipikor.Com - Berita Sesuai Fakta by IndoTipikor.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In