No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
  • HUKUM KRIMINAL
  • POLITIK
  • PEMERINTAHAN
  • SOSIAL
  • TNI
  • POLRI
  • NASIONAL
  • DAERAH
  • NEWS
  • HUKUM KRIMINAL
  • POLITIK
  • PEMERINTAHAN
  • SOSIAL
  • TNI
  • POLRI
  • NASIONAL
  • DAERAH
No Result
View All Result
INDOTIPIKOR
No Result
View All Result
Home SEJARAH

Orang Asal Dari Kewedanaan Cikatomas Tasikmalaya Iding Soemita: Dari Kuli Kontrak Sunda Menjadi Pemimpin Kaum Jawa di Suriname

Redaksi IndoTipikor by Redaksi IndoTipikor
September 12, 2025
in SEJARAH
0
Orang Asal Dari Kewedanaan  Cikatomas Tasikmalaya Iding Soemita: Dari Kuli Kontrak Sunda Menjadi Pemimpin Kaum Jawa di Suriname
0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookBagikan di WA

INDOTIPIKOR.COM—KILAS BALIK SEJARAH MASA LALU—Sebuah Kisah Nyata Perjuangan, Air Mata, dan Kebangkitan Harga Diri Leluhur Nusantara
Harapan yang Tertinggal di Ujung Samudra
Tahun 1920-an, ribuan orang Jawa berangkat dari Tanjung Priok menuju negeri seberang, Suriname, koloni kecil Belanda di Amerika Selatan.
Mereka dijanjikan kontrak kerja 5 tahun, dengan iming-iming upah dan kesempatan kembali ke tanah Jawa.
Di antara mereka, ada seorang pemuda Iding Soemita, lahir di Cikatomas, Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 1908.
Ia berangkat ke Suriname sekitar usia 17 tahun, penuh harapan bisa mencari penghidupan dan suatu hari kembali pulang.
Perjalanan laut panjang itu memakan waktu lebih dari 40 hari, dengan kondisi kapal yang penuh sesak, makanan minim, udara lembab, dan rindu tanah air yang kian menyesakkan dada.
Pahitnya Kehidupan di Perkebunan Marienburg


Setibanya di Suriname, Iding ditempatkan di perkebunan gula Marienburg, Commewijne.
Ia bekerja sebagai oppasser (asisten perawat), bertugas merawat buruh kontrak yang sakit karena malaria, disentri, dan luka kerja.
Dari situlah ia menyaksikan penderitaan yang begitu kejam : jam kerja panjang, upah sangat rendah, dan perlakuan kasar dari mandor serta pengawas Belanda.
Yang paling menyakitkan bagi Iding adalah ketika buruh meninggal : mereka sering dikubur begitu saja, tanpa kain kafan, tanpa doa, tanpa penghormatan.
Dalam hati Iding bersumpah :
“Saudara-saudara saya tidak boleh diperlakukan tanpa martabat.
Saya harus berbuat sesuatu.”
Kas Gotong Royong Pemakaman
Digerakkan oleh rasa kemanusiaan dan akar budaya gotong royong Jawa-Sunda, Iding menggagas kas pemakaman.
Ia mengajak kawan-kawannya menyisihkan sedikit upah.
Tujuannya sederhana: bila ada yang meninggal, mereka bisa dimakamkan secara layak, dengan kain kafan, doa, dan penghormatan terakhir.
Meskipun sempat ditentang pengawas perkebunan, dalam beberapa bulan gagasan itu diterima luas.
Inilah awal lahirnya solidaritas sosial komunitas Jawa-Sunda di Suriname, pondasi kebangkitan mereka sebagai sebuah masyarakat.
“Moelih n’ Djawa” – Menuntut Janji Pulang
Saat kontrak 5 tahun usai, banyak buruh ingin pulang ke Jawa, sesuai janji awal pemerintah kolonial.
Namun kenyataan pahit menunggu : ongkos kepulangan tidak ditanggung Belanda.
Iding memimpin gerakan “Moelih n’ Djawa” (Pulang ke Jawa).
Ia menulis surat resmi menuntut hak kembali. Seruan ini menggema, namun hanya sebagian kecil yang akhirnya bisa pulang.


Sebagian besar, termasuk Iding, harus menerima kenyataan bahwa tanah rantau Suriname kini menjadi rumah mereka.
Namun sejak itu, kaum Jawa-Sunda mulai sadar : untuk bertahan, mereka harus bersatu.
Lahirnya Persatoean Indonesia → KTPI
Pasca Perang Dunia II, angin politik bertiup ke Suriname.
Iding melihat peluang untuk memperjuangkan nasib kaumnya secara resmi.
Tahun 1946, ia mendirikan organisasi Persatoean Indonesia (PI).
Tiga tahun kemudian, pada 1949, PI berkembang menjadi Kaum Tani Persatoean Indonesia (KTPI), partai politik kaum Jawa di Suriname.
KTPI memperjuangkan hak petani, buruh, serta melestarikan budaya Jawa-Sunda di tanah rantau.
Iding berhasil mengubah keresahan menjadi kekuatan politik.
Dari Kebun ke Parlemen
Pada pemilu pertama Suriname tahun 1949, KTPI berhasil meraih dua kursi di parlemen kolonial.
Salah satunya ditempati oleh Iding Soemita, si anak desa Cikatomas yang dulu datang sebagai kuli kontrak.
Di mimbar parlemen, ia lantang menyuarakan:
“Orang Jawa dan Sunda bukan sekadar buruh. Kami manusia merdeka, punya harga diri, dan pantas dihormati di negeri mana pun.”
Sejak saat itu, suara kaum Jawa-Sunda resmi bergema di panggung politik Suriname.
Kehidupan Sederhana & Warisan Perjuangan
Meski menjadi tokoh politik besar, Iding tetap hidup sederhana.
Ia tinggal di rumah kecil di Commewijne, dekat dengan rakyatnya.
Tahun 1972, ia pensiun dari politik dan menyerahkan kepemimpinan KTPI kepada putranya, Willy Soemita, yang kelak juga menjadi menteri di Suriname.
Iding wafat pada 18 November 2001, di usia 93 tahun.
Ribuan keturunan Jawa-Sunda hadir mengantarnya, dengan doa dan gamelan sebagai penghormatan terakhir.
Pahlawan Diaspora Nusantara
Iding Soemita bukan sekadar politisi.
Ia adalah pelita diaspora Nusantara :
Dari kuli kontrak menjadi pemimpin.
Dari penderitaan menjadi martabat.
Dari suara kecil menjadi kekuatan politik.
Namanya kini diingat sebagai tokoh penting sejarah Suriname dan diaspora Jawa-Sunda. Warisannya adalah bukti bahwa rakyat kecil bisa bangkit dan meninggalkan jejak besar dalam sejarah.
Meskipun nasib membawa beliau disebut sebagai kuli ke tanah seberang namun sejatinya beliau konon,keturunan menak Sunda yaitu Kangjeng Adipati Aria Wiradadaha wedana bupati Sukapura.
wAllohu a’lam..
“Kerabat dari Iding Soemita ada yang tinggal di Dago Bandung (sepupu & keponakan), sedangkan anak² dari Iding Soemita yang masih hidup saat ini ada yang tinggal di Belanda & Amerika sedangkan di Suriname masih ada beberapa orang cucu dari Iding Soemita”
Sumber
Hindorama. com
Suriname. nu
Arsip Kolonial Belanda
Wikipedia: KTPI & Iding Soemita
Koropak .co .id

Previous Post

Presiden RI Prabowo Subianto berbincang langsung dengan Emir Qatar Yang Mulia Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani melalui sambungan telepon

Next Post

Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil) dan lulus tahun 1992 dari kecabangan Infanteri.

Redaksi IndoTipikor

Redaksi IndoTipikor

Next Post
Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil) dan lulus tahun 1992 dari kecabangan Infanteri.

Letjen TNI Kunto Arief Wibowo menempuh pendidikan di Akademi Militer (Akmil) dan lulus tahun 1992 dari kecabangan Infanteri.

Browse by Category

  • DAERAH
  • HUKUM KRIMINAL
  • INTERNASIONAL
  • KEJAGUNG RI
  • KEMENTERIAN
  • KPK RI
  • MAHKAMAH AGUNG RI
  • MAHKAMAH KONTITUSI
  • NASIONAL
  • NEWS
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • POLRI
  • SEJARAH
  • SOSIAL
  • TNI
  • NEWS
  • HUKUM KRIMINAL
  • POLITIK
  • PEMERINTAHAN
  • TNI
  • POLRI
  • SOSIAL
  • NASIONAL
  • DAERAH

© 2022 IndoTipikor.Com - Berita Sesuai Fakta by IndoTipikor.

No Result
View All Result
  • Login
  • HUKUM KRIMINAL
  • SOSIAL
  • TNI
  • POLRI
  • PEMERINTAHAN
  • POLITIK
  • NASIONAL
  • NEWS
  • DAERAH

© 2022 IndoTipikor.Com - Berita Sesuai Fakta by IndoTipikor.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In